Senin, 31 Oktober 2016

Kesuksesan itu butuh pengorbanan


"Jer Basuki Mawa Bea"


Setiap orang pastilah menginginkan keberhasilan dan kesuksesan dalam hidupnya, entah itu dalam hal rumah tangga, penghasilan, karir, bisnis dan lain sebagainya. Untuk mencapai kesuksesan, kita juga pasti tahu bahwa hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, akan tetapi dibutuhkan kerja keras, konsistensi, pembelajaran dan lain sebagainya.

Ungkapan dari Bahasa Jawa  jer basuki mawa bea dapat diartikan untuk meraih kesuksesan pastilah dibutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk mencapai suatu kesuksesan ini banyak hal yang tercakup di dalamnya, misalnya saja di dalam meraih keberhasilan dalam bidang pendidikan atau sekolah pastilah dibutuhkan waktu untuk rutin dan konsisten dalam belajar. Konsisten dan selalu meluangkan waktu dalam belajar adalah sebuah pengorbanan, kenapa bisa disebut sebagai pengorbanan? Karena belajar adalah sesuatu yang kurang menyenangkan dibandingkan apabila kita meluangkan waktu untuk kesenangan kita misalnya bermain dengan teman, jalan-jalan dan lain sebagainya. Apabila kita mengesampingkan sesuatu yang menyenangkan untuk melakukan sesuatu yang tidak kita sukai itulah sebuah pengorbanan.

Arti kata pengorbanan dalam hal ini adalah memberikan atau merelakan sesuatu yang berharga (barang ataupun jasa) atau menyenangkan secara sadar dan iklas tanpa mengharapkan imbalan ataupun atas dasar perjanjian dari pihak-pihak lain tersebut atau dapat juga disebut sebagai pemberian sukarela/tanpa paksaan. Pengorbanan biasanya dilakukan atas dasar suatu kepercayaan kepada Tuhan atau berdasarkan kasih kepada orang lain atau dapat juga karena tanggung jawab.

Apakah sebenarnya yang ingin diajarkan dan disampaikan dalam ungkapan Bahasa Jawa di atas? Yang ingin disampaikan adalah dalam hidup di dunia ini tidak ada sesuatu hal yang menyenangkan, membahagiakan, membanggakan dan lain sebagainya yang bisa diperoleh dengan berpangku tangan saja. Hal ini diungkapkan untuk mendidik masyarakat untuk tidak bermalas-malasan serta setiap orang harus selalu berusaha keras dan bahkan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk mencapai hal-hal yang diinginkannya ataupun kesuksesan hidup, baik itu kehidupan pribadi ataupun kehidupan di dalam suatu kelompok/masyarakat.

Ungkapan ini biasanya dituturkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebuah pengajaran secara tidak langsung oleh orang tua kepada anaknya secara turun temurun dan diharapkan bahwa nilai-nilainya dapat diaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan setiap pribadi dari masyarakat yang ada.

Minggu, 30 Oktober 2016

Seiring Berjalannya Waktu, Segala Hal akan Terungkap

"Becik kethitik olo kethoro"


Ungkapan falsafah Jawa tersebut di atas sebenarnya sangatlah sederhana apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, secara kurang lebih adalah kebaikan akan terlihat kecil, keburukan akan kelihatan sangat jelas. Walaupun ungkapan tersebut terlihat sederhana, akan tetapi menurut saya makna yang terkandung di dalamnya sangatlah dalam dan merupakan sebuah kenyataan di dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.

Menurut pendapat saya ada dua buah makna di dalam sebuah ungkapan di atas, adapun maknanya adalah sebagai berikut:
  1. Segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang tidaklah mungkin ditutup-tutupi untuk selamanya. Terlepas perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk pasti akan terlihat juga.
  2. Biasanya perbuatan baik seseorang akan terlihat kecil/biasa dibandingkan apabila seseorang tersebut melakukan perbuatan buruk yang langsung akan kelihatan/tersebar kemana-mana.
Di dalam masyarakat Jawa, kedua hal tersebut diajarkan untuk mengerti dan memahami sifat-sifat yang ada di dalam diri manusia dan masyarakat pada umumnya.


Untuk makna yang pertama dimaksudkan agar setiap orang selalu berbuat baik. Kebaikan ataupun keburukan akan sama-sama terlihat walaupun pada saat melakukannya tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Terlebih lagi sebuah keburukan tidak akan dapat disembunyikan dalam waktu yang lama karena ibarat menyimpan sebuah bangkai maka bau busuknya pasti akan tercium juga.

Ungkapan ini sebenarnya juga sebagai bentuk keputus asaan seseorang yang merasa bahwa dirinya benar akan tetapi dipersalahkan. Sebagai bentuk keputus asaan tersebut maka seseorang hanya berharap bahwa waktu dan kuasa Tuhan yang akan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Atau pun pada saat terjadi suatu perselisihan di dalam masyarakat yang cukup rumit sehingga tidak dapat diselesaikan dengan cepat karena kurang jelasnya fakta yang ada. Dalam kasus seperti ini masyarakat akan membiarkan atau menunda penyelesaiannya sambil mengamati masing-masing pihak agar mendapatkan fakta pendukung yang baru. Masyarakat Jawa sangat percaya bahwa dengan seiring berjalannya waktu dan kehidupan ini akan terlihatlah siapa yang benar dan siapa yang bersalah.


Sedangkan untuk makna yang kedua dimaksudkan agar setiap orang tahu dan memahami konsekuensi  dari setiap perbuatan yang dilakukannya. Dengan tahu dan paham akan konsekuensinya, sehingga setiap anggota masyarakat selalu berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan. Salah satu konsekuensi dari sebuah perbuatan adalah akan tersebarnya berita tentang kebaikan atau keburukan seseorang yang dihasilkan dari perbuatannya tersebut. Perbuatan baik seseorang biasanya dianggap sebagai hal yang biasa atau pun hal kecil (seperti titik yang kecil dalam Bahasa Jawa "kethitik") bahkan mungkin tidak akan terlihat. Sebaliknya pada saat seseorang tersebut melakukan suatu kesalahan atau keburukan maka semua orang akan segera tahu dan menyorotinya. Sebagai contoh untuk masa sekarang, misalnya saja tentang seorang figur publik yang melakukan sebuah keburukan, dengan begitu cepatnya keburukan itu akan tersebar dan sangat mencolok (dalam Bahasa Jawa "kethoro") dan bahkan menjadi sebuah trending topik di mayarakat.

Dengan adanya kalimat ungkapan tersebut diharapkan akan selalu mengingatkan setiap orang untuk cenderung berbuat baik daripada berbuat yang tidak baik. Sampai dengan saat inipun ungkapan "becik kethitik olo kethoro" ini masih diajarkan dalam masyarakat Jawa. Mereka juga masih meyakini bahwa segala perbuatan akan terungkap kebenarannya seiring dengan berjalannya sang waktu. Demikian pemahaman yang dapat saya sampaikan mengenai ungkapan "becik kethitik olo kethoro", semoga dapat bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca, terima kasih.




Sabtu, 29 Oktober 2016

3 Hal Mulia yang Harus Dilakukan Guru dalam Masyarakat


"Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani"


Kalimat ungkapan bahasa Jawa di atas di ciptakan oleh seorang pelopor dalam bidang pendidikan yang juga sekaligus sebagai salah seorang Pahlawan Indonesia, beliau adalah Ki Hajar Dewantara. Beliau ini adalah seorang pejuang dalam bidang pendidikan pada masa penjajahan Belanda, dimana beliau sangat peduli terhadap hak rakyat jelata untuk mendapatkan pendidikan seperti halnya para priyayi dan orang Belanda pada waktu itu. Ki Hajar Dewantara juga mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Perguruan Taman Siswa sebagai bentuk kepeduliaannya akan pendidikan untuk rakyat pribumi. Lembaga pendidikan yang didirikan tersebut sampai dengan saat ini masih ada di wilayah Yogyakarta dan masih tetap memakai nama Perguruan Taman Siswa.


Apakah yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dengan ungkapan Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat latar belakang ungkapan tersebut. Pada awalnya slogan atau ungkapan ini hanya ditujukan buat para pengajar atau guru atau pendidik pada saat itu. Dimana seorang pengajar/guru itu harus menjadi teladan atau contoh dari murid-muridnya di dalam setiap aspek kehidupan yang ada. Dikarenakan kondisi pada waktu itu tidak banyak orang yang mendapatkan pendidikan dan atas dasar pemikiran bahwa kemajuan masyarakat hanya dapat dicapai dengan adanya pendidikan untuk semua orang maka Ki Hajar Dewantara menugaskan guru-guru yang ada tidak hanya sekedar mengajar di sekolah. Akan tetapi seorang guru harus menjadi penggerak secara nyata di dalam masyarakat. Dan diciptakanlah kalimat semboyan atau slogan yang berisikan 3 tugas seorang guru di tengah masyarakat. Adapun untuk masing-masing tugas tersebut adalah sebagai berikut:

  • Ing ngarso sung tuladha
Kalimat di atas apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah: pada saat posisi kita di depan (memimpin) kita harus menjadi contoh atau memberikan teladan. Makna atau ajaran yang ingin disampaikan adalah:
seorang guru itu adalah seorang pemimpin yang harus menjadi telandan bagi murid-muridnya atau orang yang diajarnya. Mengapa guru disebut sebagai seorang pemimpin? Karena pada waktu itu tidak banyak orang yang berpendidikan sehingga seorang guru yang yang pastinya lebih terpelajar dan berpendidikan haruslah memberikan bimbingan dan memimpin masyarakat terutama dalam hal meraih pendidikan. Pada masa sekarang dimana pendidikan sudah merata maka ungkapan di atas juga dapat dimaknai untuk seluruh anggota masyarakat yang ada. Pada saat seorang anggota masyarakat itu mempunyai sesuatu yang lebih dalam bidang tertentu daripada orang-orang yang berada di sekitarnya, maka ia harus memberikan teladan atau contoh kepada orang yang lainnya.

  • Ing madya mangun karso
Dalam Bahasa Indonesia kalimat di atas dapat diterjemahkan sebagai pada saat posisi kita di tengah maka kita harus membangun kemauan orang di sekitar kita untuk maju. Ajaran yang ingin disampaikan adalah:
Para guru ditugaskan untuk dapat membangun kemauan masyarakat disekitarnya untuk belajar dan mendapatkan pendidikan. Adapun untuk masa sekarang tugas ini tidak hanya untuk seorang guru semata tetapi juga ditujukan untuk semua orang. Diharapkan setiap orang selalu berusaha membina kemauan dan saling membangun di setiap aspek kehidupan yang ada di masyarakat sehingga akan menjadikan masyarakat lebih baik dalam segala hal.

  • Tut wuri handayani
Dapat diartikan, apabila posisi kita di belakang maka kita harus menjadi daya pendorong atau menjadi penyemangat. Adapun maksud yang ingin disampaikan adalah: Seorang guru harus dapat menjadi penyemangat dan pendorong dari masyarakat dimana dia berada. Untuk saat ini, semua orang harus saling menyemangati dan mendorong agar tercipta suatu kehidupan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Akhir kata, pemahaman saya untuk ungkapan "Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani" hanyalah seperti yang sudah saya tuliskan di atas, Mohon maaf apabila ada pemahaman saya yang kurang dalam konteks ini, Saya berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan yang sempat membaca, terima kasih.

Kamis, 27 Oktober 2016

4 Sifat Seorang Ksatria Berdasarkan Pepatah Jawa

"Nglurug tanpa bala, sekti tanpa aji, menang tanpa ngasorake, sugih tanpa bandha"


Dalam tulisan ungkapan di atas, menurut pendapat saya adalah gambaran dari jiwa seorang ksatria, sehingga untuk tulisan yang akan saya bagikan ini diberikan judul "4 Sifat Seorang Ksatria Berdasarkan Pepatah Jawa".

Kalimat ungkapan di atas merupakan empat buah ungkapan yang mempunyai arti yang hampir sama tetapi dalam konteks yang berbeda. Apabila kita cermati dari masing-masing frase dalam kalimat tersebut, maka akan kita lihat bahwa makna dari kata-kata yang ada saling bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Marilah kita bahas satu per satu frase dalam kalimat ungkapan di atas.

Nglurug tanpa bala
Dalam frase "nglurug tanpa bala", arti kata glurug adalah datang dengan membawa rombongan orang banyak atau membawa pasukan dengan tujuan untuk berperang. Sedangkan kata tanpa bala berarti tidak membawa pasukan ataupun teman. Jadi frase di atas dapat kita artikan bahwa seseorang yang menghadapi segala sesuatu sendirian tanpa bantuan orang lain. Prinsip hidup yang ingin disampaikan dan diajarkan dalam ungkapan ini adalah tentang keberanian di dalam kehidupan ini untuk bertanggung jawab dan mandiri dalam menjalani dan menghadapi segala permasalahan yang ada tanpa harus mengharapkan atau bahkan mengandalkan orang lain (orang tua, saudara, teman dan yang lainnya).

Sekti tanpa aji
Sekti atau sakti yang dimaksud adalah sebuah kemampuan yang melebihi dari kemampuan orang-orang biasa, dan dalam hal ini kemampuan yang berhubungan dengan kanuragan, bela diri, ataupun kemampuan mistis/supranatural. Tanpa aji yang dimaksud adalah tanpa ilmu bela diri atau ilmu mistis tertentu dan juga dapat diartikan tidak menggunakan barang berupa pusaka, sehingga boleh dikatakan bahwa seseorang itu mampu lebih dari kemampuan orang biasa dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya sendiri. Ajaran yang disampaikan adalah tentang bagaimana kita memberdayakan segala sesuatu yang ada di dalam diri kita sehingga kita mempunyai kemampuan yang lebih untuk menjalani hidup tanpa mengandalkan kekuasaan atau jabatan untuk menghadapi semua permasalahan hidup yang ada.

Menang tanpa ngasorake
Arti dari kata ngasorake adalah merendahkan atau mengalahkan. Dalam istilah saat ini yang boleh dikatakan sepadan dengan ungkapan Jawa tersebut adalah "win-win solution" yang artinya dua belah pihak merasa menang atau diuntungkan. Ajaran yang ingin disampaikan adalah bagaimana kita mencapai tujuan kita tanpa membuat orang lain merasa dirugikan ataupun direndahkan, dan prinsip hidup ini merupakan salah satu prinsip hidup yang mendasar bagi masyarakat Jawa sehubungan dengan prinsip tepo seliro. Baca juga: Tenggang rasa (tepo seliro)


Sugih tanpa Bandha
Kata sugih dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah kaya atau berkecukupan, sedangkan tanpa bandha terjemahannya adalah tanpa harta benda. Dalam frase inipun arti katanya juga bertolak belakang karena kaya adalah identik dengan mempunyai harta benda yang banyak sedang kata yang lainnya mempunyai arti tidak punya harta benda. Maksud dari ungkapan ini adalah: dalam kehidupan ini harta benda bukanlah segala-galanya, karena memiliki harta benda yang banyak sekali pun tidak akan menjamin ketenteraman dan kebahagiaan hidup ini. Ajaran yang ingin disampaikan adalah untuk mencapai kebahagiaan hidup, kita tidak harus mengandalkan harta benda semata tetapi juga harus kaya di dalam hal yang lainnya juga, misalnya kita kaya dalam hal teman yang banyak, pengetahuan yang banyak, kebaikan yang banyak dan lain sebagainya di luar harta benda.

Sahabat, pemahaman saya barulah sebatas apa yang sudah ditulis di atas tentang ungkapan glurug tanpa bala, sekti tanpa aji, menang tanpa ngasirake, sugih tanpa bandha. Adapun jawaban mengapa saya memberikan judul tulisan ini  4 Sifat Seorang Ksatria Berdasarkan Pepatah Jawa? Karena seorang ksatria itu harus mempunyai keberanian dan tanggung jawab, mempunyai kemampuan dalam dirinya untuk mencapai tujuan, mempunyai sifat yang luhur dan tidak merendahkan orang lain serta tepo seliro dan juga kaya akan pengetahuan, kebaikan serta hal yang baik lainnya. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat, terima kasih.






Selasa, 25 Oktober 2016

Sebuah Tolok Ukur untuk Menghargai Orang Lain - Tepo Seliro

Tepo Seliro


Dalam hal menjalin hubungan antar sesama manusia sering sekali kita mendengar orang berkata "kita harus menghargai orang lain atau kita harus saling menghargai". Menghargai orang lain bukanlah sekedar sebuah slogan yang manis untuk didengarkan, tetapi lebih ke arah sebuah cara pandang, sikap dan perbuatan. Cara kita memandang orang lain adalah awal dari sikap dan perbuatan kita selanjutnya terhadap orang lain. Sebagai contoh cara memandang orang lain, misalnya pada saat kita bertemu dan berkenalan dengan seseorang yang pada saat itu penampilannya terlihat kurang layak dan dalam hati kita berkata "kayaknya ga selevel deh sama saya". Contoh di atas adalah sebuah contoh cara memandang yang tidak baik. Berawal dari cara pandang yang kurang baik tersebut maka sikap dan perbuatan kita terhadap orang tersebut akan terpengaruh menjadi kurang baik juga. Dari sikap dan perbuatan yang dilakukan terhadap orang lain inilah seseorang akan dinilai apakah dia adalah seorang pribadi yang dapat menghargai orang lain atau tidak.
Apakah tolok ukur dalam hal menghargai orang lain? Di dalam masyarakat Jawa ada sebuah falsafah  "Tepo Seliro" yang dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam hal bagaimana kita menghargai orang lain. Apakah tepo seliro tersebut? Tepo seliro adalah sebuah prinsip cara memandang orang lain yang didasarkan pada sebuah pertimbangan "seandainya saya menjadi dia". Menurut pemikiran saya (sekedar otak atik gathuk) tepo seliro berasal dari bahasa Jawa "ditepake neng seliro" yang artinya adalah terapkanlah pada diri sendiri. Jadi yang menjadi tolok ukur dalam menghargai orang lain sebenarnya adalah diri kita sendiri, apa yang kita ukurkan untuk diri sendiri kita ukurkan juga untuk orang lain.


Bagaimana kita menerapkan prinsip tepo seliro tersebut? Cara yang saya pahami mengenai penerapan prinsip hidup ini adalah: sebelum melakukan atau mengatakan sesuatu kepada orang lain hendaklah kita berpikir dan berusaha menempatkan diri kita sebagai orang lain yang berinteraksi dengan kita. Selanjutnya, coba kita rasakan seandainya kita diperlakukan seperti apa yang akan kita lakukan kepada orang lain tersebut, apakah kita merasa senang atau tidak? Sebagai contoh adalah: setiap orang pasti tidak akan merasa senang apabila dipukul, oleh sebab itu janganlah memukul orang lain. Kita tidak senang apabila di bohongi, maka janganlah membohongi orang lain. Atau dapat juga diungkapan jika kita tidak mau dicubit maka janganlah mencubit.


Ajaran dan prinsip tepo seliro ini selalu diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan sebuah tujuan dan harapan terciptanya kerukunan dan keharmonisan antar pribadi yang ada di dalam pergaulan masyarakat Jawa. Didikan ini ditanamkan secara terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari sehingga secara otomatis akan lebih mudah dimengerti dan dicontoh oleh generasi berikutnya. Dengan sistem pengajaran seperti di atas diharapkan setiap masyarakat Jawa mempunyai cara pandang yang sama dalam hal berinteraksi dengan orang lain.


Prinsip tepo seliro seperti yang tertulis di atas  mungkin terlihat sederhana dan mudah, tetapi pada kenyataannya cukup sulit untuk benar-benar menerapkan secara konsisten. Kesulitan dalam menerapkannya lebih dikarenakan sifat dasar manusia adalah egois/mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Dengan perbedaan yang sangat bertentangan tersebut itulah mengapa prinsip tepo seliro harus selalu dilatih setiap saat agar menjadi sebuah sikap dan kebiasan dalam setiap tindakan yang dilakukan. Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah kita harus mengalahkan kepentingan diri kita untuk dapat menghargai orang lain dan salah satu caranya adalah menerapkan prinsip tepo seliro pada interaksi sehari-hari. Seperti halnya hukum aksi - reaksi atau siapa menabur akan menuai maka dalam hal menghargai orang lain pun berlaku hukum tersebut. Jadi hargailah orang lain dan orang lain pun akan menghargai kita.




Senin, 24 Oktober 2016

Sekedar Saling Memandang - Urip Kuwi Mung Sawang Sinawang

"Urip kuwi mung sawang sinawang"


Ungkapan berbahasa Jawa dalam tulisan di atas adalah apabila di terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah "hidup itu hanyalah saling melihat satu dengan yang lainnya".

Ajaran yang ingin disampaikan oleh kalimat tersebut di atas adalah mengenai cara pandang tentang bagaimana kita harus dapat mensyukuri kehidupan yang kita jalani, walaupun terkadang kita melihat orang lain seolah lebih baik kondisi kehidupannya dibandingkan dengan kehidupan kita. Mengapa kita harus bersyukur padahal kita seolah iri melihat kehidupan orang lain? Karena sebenarnya kita hanyalah memandang kehidupan orang lain tersebut dari luarnya saja dan dari apa yang bisa kita lihat serta hanya melihat dari sebuah sisi kehidupan saja tanpa kita tahu yang sebenarnya dan sisi yang lainnya secara menyeluruh. Demikian juga orang lain yang kita anggap lebih baik kehidupannya tersebut bisa jadi juga menganggap bahwa kehidupan kita lebih baik dari kehidupannya di sisi yang lain dari sisi yang kita pandang terhadapnya.


Dari sini terlihat bahwa manusia itu hanyalah saling melihat dari luarnya saja tanpa tahu yang sebenarnya serta tidak menyeluruh dari semua aspek kehidupan yang ada, sehingga dari hal tersebut terciptalah suatu ungkapan untuk mengajarkan bahwa apa yang kita lihat dan kita pikir lebih baik di kehidupan orang lain belum tentu itu benar serta belum tentu sesuai juga buat pribadi kita apabila kita diberikan suatu kesempatan menjalani kehidupan orang lain tersebut. Untuk lebih menjelaskan falsafah tersebut mungkin akan lebih mudah apabila digambarkan dengan sebuah contoh: ada dua buah keluarga yang bertetangga, katakanlah keluarga A dan keluarga B. Keluarga A lebih berada atau kaya dari keluarga B tetapi kekuarga B lebih rukun dan harmonis daripada keluarga A. Keluarga B akan melihat bahwa keluarga A lebih beruntung, lebih enak dan lebih bahagia dari keluarganya karena hanya melihat dari sisi keuangannya saja tanpa melihat sisi kehidupan yang lainnya. Sebaliknya, keluarga A melihat keluarga B lebih baik, lebih rukun dan harmonis dibandingkan dengan keluarganya sehingga keluarga A berpikir betapa enaknya keluarga B karena hanya melihat dari satu sisi saja yang lebih daripada keluarganya.

Dari contoh di atas terlihat bahwa kadang kita melihat orang lain lebih dari pada kita dan juga sebaliknya bahwa orang lain melihat bahwa kita lebih daripadanya. Dari sinilah falsafah "Urip kuwi mung sawang sinawang" untuk mengajarkan bahwa tidaklah perlu kita iri terhadap kehidupan orang lain dan juga mengajarkan bahwa kita harus bersyukur terhadap apa yang ada pada kita. Memang kehidupan orang yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama, dan masing-masing pastilah mempunyai kekebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri sehingga tidak usah saling iri dan cukup kita mensyukuri kehidupan yang dikaruniakan kepada kita dan meyakini bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita.


Demikian pendapat dan pemahaman saya tentang falsafah urip kuwi mung sawang sinawang. Seandainya ada dari pendapat saya di atas yang kurang sesuai mohon untuk berkenan memberikan pendapat dan masukan serta koreksi pada kolom komentar yang tersedia sehingga saya dapat lebih memahami tentang falsafah ini, terima kasih.



Minggu, 23 Oktober 2016

Tujuan Penggunaan 3 Jenis Tingkatan Bahasa Jawa dalam Komunikasi Sehari-hari


Di dalam Masyarakat Jawa diajarkan dan dilatih untuk selalu menghargai dan menghormati orang lain sesuai dengan kriteria tertentu dan didasarkan kepada aturan serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang ada. Ajaran untuk menghargai dan menghormati orang lain ini diajarkan secara turun-temurun dari lingkup terkecil yaitu keluarga dan lingkungan pergaulan sosial sehari-hari. Di dalam pendidikan formal yang ada di dalam masyarakat Jawa hal ini juga diajarkan sebagai mata pelajaran khusus yaitu pelajaran Bahasa Jawa. Adapun penghormatan ini akan terlihat dari sikap dan terlebih lagi akan sangat terlihat dari sisi bahasa dalam komunikasi yang dilakukan oleh orang Jawa di dalam kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Dasar kriteria dari penghormatan ini biasanya meliputi usia lawan bicara, kedudukan atau jabatan lawan bicara secara pemerintahan maupun sosial kemasyarakatan, jenjang hubungan dalam silsilah dan lain sebagainya.

Di dalam Bahasa Jawa terdapat 3 tingkatan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Adapun tingkatan bahasa tersebut adalah sebagai berikut: 

1. Bahasa Jawa Ngoko
Bahasa ini adalah tingkatan terendah dari Bahasa Jawa yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi antar sesama warga dengan tingkatan tingkatan sosial yang relatif sama maupun boleh digunakan oleh tingkatan yang lebih tinggi ke tingkat yang dibawahnya. Sebagai contohnya adalah: orang tua berbicara kepada anaknya, teman sebaya, orang yang mempunyai jabatan lebih tinggi kepada bawahannya dan sebagainya.


2. Bahasa Jawa Krama/Kromo (madya)
Bahasa ini adalah tingkat tengah dari Bahasa Jawa yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi antara orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua secara umur, orang biasa dengan orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dan juga antara seseorang yang lebih muda secara silsilah kepada orang yang lebih tua silsilahnya.


3. Bahasa Jawa Krama Inggil
Bahasa ini adalah tingkatan paling halus atau paling tinggi dalam Bahasa Jawa secara tingkatan Bahasa Jawa yang ada. Bahasa krama inggil ini secara umum jarang digunakan di dalam masyarakat biasa karena bahasa ini sebenarnya adalah bahasa yang digunakan di kalangan ningrat/priyayi atau di kalangan abdi dalem di lingkungan kerajaan.


Beberapa contoh kata dari tingkatan Bahasa Jawa yang sudah diuraikan di atas adalah sebagai berikut:

Mengapa dalam berkomunikasi harus dibedakan secara bahasa yang digunakan di dalam masyarakat Jawa? Pembedaan bahasa ini bukan bermaksud untuk membeda-bedakan golongan dalam masyarakat Jawa, tetapi lebih bertujuan sebagai ungkapan penghormatan dan penghargaan kepada orang-orang yang memang seharusnya dihormati. Hal ini terjadi karena kesadaran mereka bahwa orang-orang tersebut berperanan dalam hidup mereka atau pun dalam kehidupan masyarakat mereka. Sebagai contoh adalah: orang tua harus dihormati oleh anaknya karena orang tua lah yang sudah dengan susah payah membesarkan anak-anaknya, sehingga sangat pantas lah mereka dihormati oleh anaknya. Satu lagi contoh, di dalam masyarakat Jawa terutama di pedesaan "Perangkat Desa" sangatlah dihormati oleh warga desanya karena merekalah yang memikirkan bagaimana desa itu menjadi maju dan mereka juga yang membantu warga dalam segala hal yang ada sehingga sangatlah pantas warga desa menghormati mereka dengan bahasa yang digunakan adalah bahasa krama sebagai perwujudan rasa hormat dan terima kasih.

Demikianlah yang saya ketahui tentang mengapa di dalam masyarakat Jawa terdapat 3 buah tingkatan bahasa dengan tujuan penggunaannya masing-masing. Apabila dalam tulisan saya ini terdapat hal-hal yang masih belum tepat mohon bagi rekan-rekan pembaca untuk memberikan masukan dan tanggapannya dalam kolom komentar agar dapat menambah wawasan dan pengetahuan saya, terima kasih.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Alon Alon Waton Kelakon || Fokus terhadap ketercapaian tujuan

"Alon-alon waton kelakon"


Kalimat di atas adalah salah satu prinsip hidup yang sangat melekat pada pribadi masyarakat Jawa dan begitu pula bagi orang lain diluar masyarakat Jawa, sehingga membuat prinsip hidup tersebut di atas menjadi predikat bagi seorang yang berasal dari masyarakat Jawa meskipun dia sudah tidak tinggal di Jawa. 


Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk memberikan pengertian dari falsafah atau prinsip hidup "alon-alon waton kelakon" tersebut menurut yang saya pahami sebagai seorang yang terlahir di dalam masyarakat Jawa. Dengan kalimat ini orang Jawa ingin mengajarkan bahwa dalam mengerjakan segala hal harus fokus pada ketercapaian tujuan/goals yang sudah ditetapkan (waton kelakon). Dalam bahasa Jawa kata "alon-alon" memang berarti pelan-pelan, tetapi dapat juga berarti hati-hati ataupun tidak terburu-buru. Titik berat dari kalimat dalam prinsip hidup ini adalah tercapainya tujuan (kelakon) bukan pelan-pelan nya (alon-alon), dan mengapa dituliskan demikian karena ungkapan tersebut sebenarnya adalah kondisi terburuknya "meskipun pelan yang penting tujuannya harus tercapai", sehingga jangan disalah artikan bahwa orang Jawa menganjurkan untuk berlambat-lambat dalam bekerja. Jadi anggapan bahwa orang Jawa itu lambat dalam bekerja karena kalimat ungkapan prinsip hidup tersebut adalah tidak benar. Dalam kata alon-alon pada kalimat tersebut terkandung juga makna tentang kehati-hatian dalam bertindak serta penuh pertimbangan yang matang sehingga pada saat melakukan pekerjaan tersebut dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan dan tidak harus trial and error karena sudah dipertimbangkan dengan matang. Dalam bahasa Jawa kata "alon-alon" memang berarti pelan-pelan, tetapi dapat juga berarti hati-hati ataupun tidak terburu-buru.


Sebenarnya untuk memaknai sebuah falsafah hidup di kehidupan orang Jawa tidaklah semudah mengartikan sebuah kalimat, tetapi harus juga dilihat dari sisi pola pemikiran dan pola kehidupan serta budaya yang ada di dalam kehidupan masyarakat Jawa. Prinsip hidup ini sudah begitu mengakar di dalam kehidupan masyarakat Jawa dan prinsip ini adalah salah satu prinsip yang saya kagumi dari kearifan hidup mereka.

Diakhir tulisan ini saya berharap bahwa sahabat yang sempat membaca tulisan ini dapat memaknai ungkapan falsafah hidup ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penciptanya. Apabila ada sesuatu yang kurang berkenan tentang tulisan ini saya mohon maaf dan saya juga mengharapkan masukan dan pendapat dari para sahabat agar saya dapat menambah wawasan tentang falsafah hidup alon-alon waton kelakon.